I. JUDUL : ANALISA MUTU TAHU
II. TUJUAN
1. Melakukan Analisa Mutu Tahu
2. Membandingkan hasil analisa mutu tahu dengan persyaratan mutu yang telah ditetapkan (
III. DASAR TEORI
Tahu adalah salah satu jenis makanan yang dibuat dari hasil penggumpalan sari kacang kedelai (soya max, Glycine max Merr).
Tahu merupakan pangan yang populer di masyarakat
Selain itu, tahu merupakan salah satu makanan yang menyehatkan karena kandungan proteinnya yang tinggi serta mutunya setara dengan mutu protein hewani. Hal ini bisa dilihat dari nilai NPU (net protein utility) tahu yang mencerminkan banyaknya protein yang dapat dimanfaatkan tubuh, yaitu sekitar 65 persen, di samping mempunyai daya cerna tinggi sekitar 85-98 persen.
Oleh karena itu, tahu dapat dikonsumsi oleh segala lapisan masyarakat. Tahu juga mengandung zat gizi yang penting lainnya, seperti lemak, vitamin, dan mineral dalam jumlah yang cukup tinggi.
Selain memiliki kelebihan, tahu juga mempunyai kelemahan, yaitu kandungan airnya yang tinggi sehingga mudah rusak karena mudah ditumbuhi mikroba. Untuk memperpanjang masa simpan, kebanyakan industri tahu yang ada di
Pembuatan tahu dilakukan secara ekstraksi (penyarian) yaitu kacang kedelai direndam , digiling, direbus, lalu disaring. Hasil saringan ini digumpalkan dengan cara diasamkan atau diberi batu tahu (gips) sambil dipanaskan sehingga menggumpal. Air dibuang dengan jalan pengepresan.
Pemeriksaan mutu tahu dilakukan dengan analisa kimia yang meliputi kadar air, kadar abu, kadar lemak, kadar protein, kadar serat, BETN dan analisa terhadap logam-logam berbahaya, arsen, zat warna dan zat pengawet serta dilakukan pengamatan secara organoleptik antara lain bau, rasa, dan kenampakan.
Pada Analisa yang dilakukan jenis parameter yang dilakukan adalah kandungan zat pewarna yang terdapat pada tahu
Syarat mutu tahu yang dibakukan oleh Balai Penelitian Kimia Semarang tertera pada table di bawah ini :
Tabel. Syarat Mutu Tahu
| No | Karakteristik | Syarat Mutu |
| 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 | Kadar air Kadar abu Kadar Lemak Kadar Protein Kadar serat BETN Logam berbahaya Zat warna Zat pengawet Baud an rasa Kenampakan | 79,11% 0,79% 5,76% 11,69% 0,04% 2,94% Tidak ada Tidak ada Tidak ada Kompak/padat |
Sumber : Balai Penelitian Kimia
Cara Pembuatan Tahu
1) Pilih kedelai yang bersih, kemudian dicuci
2) Rendam dalam air selama 8 jam (paling sedikit 3 liter air untuk 1 kg kedelai). Kedelai akan mengembang bila direndam.
3) Cuci berkali-kali kedelai yag telah direndam. Apabila kurang bersih maka tahu yang dihasilkan akan cepat menjadi asam.
4) Tumbuk kedelai dan tambahkan air hangat sedikit demi sedikit hingga berbentuk bubur.
5) Masak bubur tersebut, jangan sampai mengental pada suhu 70 – 80 0 C (ditandai dengan adanya gelembung-gelembung kecil).
6) Saring bubur kedelai dan endapkan airnya dengan menggunakan batu tahu (Kalsium sulfat) sebanyak 1 gram atau 3 ml asam cukauntuk 1 liter sari kedelai, sedikit demi sedikit sambil diaduk perlahan-lahan.
7) Cetak dan pres endapan tersebut.
IV. ALAT DAN BAHAN
Alat :
· Beaker glass
· Sendok
· Hot plate
· Pipet volume
· Pipet tetes
· Kaca persegi
Bahan :
· Tahu kuning
· Tahu lokal
· Tahu tofu asoka
· Tahu niken
· KHSO3 10%
· Bulu domba
· Air suling
· NH4OH 10%
· HCl pekat
· H2SO4 pekat
· NaOH 10%
V. LANGKAH KERJA
1. Memasukkan ± 50 ml contoh ke dalam gelas piala, menambahkan 5 ml larutan KHSO4 10%, memasukkan pula ± 10 cm bulu domba.
2. Mendidihkan campuran tersebut selama 10 menit, kemudian mendinginkan.
3. Setelah dingin, mengangkat bulu domba dan mencuci dengan air suling, kemudian mengering-anginkan.
4. Mengamati warna yang terbentuk, apabila bulu domba berwarna berarti ada zat warna tambahan.
5. Memotong benang wol dan menetesi dengan NH4OH 10%, jika berubah menjadi hijau kotor menunjukan adanya zat warna alami. Jika terbentuk warna lain, maka kemungkinan terdapat zat warna tambahan.
6. Mengambil 3 potong bulu domba lainnya, yang masing-masing diuji dengan 1-2 tetes HCl pekat, H2SO4 pekat dan larutan NaOH 10%.
7. Mengamati semua perubahan warna yang terjadi pada setiap potong bulu domba.
VI. DATA HASIL ANALISA
| No | Sampel | NH4OH 10% | HCl pekat | H2SO4 pekat | NaOH 1 N |
| 1 2 3 4 | A B C D | Tidak berubah Tidak berubah Kuning Tidak berubah | Ke arah ungu Kuning kecoklatan Ungu Makin pudar | Merah bata Ungu coklat Coklat kemerahan Coklat kemerahan | Kuning orange Kekuningan Orange Kuning kecoklatan |
Keterangan :
A : Tahu kuning
B : Tahu putih (lokal)
C : Tahu Tofu Asoka
D : Tahu Niken
VII. PEMBAHASAN
Dari hasil uji zat pewarna pada tahu, diketahui bahwa pada keempat produk tahu yang telah dianalisa yaitu tahu kuning, tahu putih (lokal), tahu tofu asoka dan tahu niken, terdapat kandungan pewarna, hal ini terbukti dengan adanya perubahan-perubahan warna pada bulu domba dari warna putih menjadi putih keruh setelah diangakt dari larutan tahu yang dipanaskan dengan penambahan KHSO4 10%.untuk menentukan jenis pewarna yang digunakan maka bola domba setelah dikibas-kibaskan ditambahakan beberapa macam pereaksi yaitu pereaksi NH4OH 10%, HCl pekat, H2SO4 pekat, dan pereaksi NaOH 1 N.
Setelah diteteskan beberapa macam pelarut pada bola domba diketahui peruaban warna yang terjadi, yang kemudian dikonversi jenis pewarna apa yang terdapat pada sampel. Pada tahu sampel A, jenis pewarna yang digunakan adalah perpaduan antara pewarna rose bengal dengan sudan, sampel B, perpaduan antara pewarna rose bengal, dan coklat bosmark, sampel C perpaduan antara pewarna brilliant yellow-S dan coklat bosmark dan pada sampel D jenis pewarna yang digunakan adalah perpaduan antara pewarna rose bengal, palatine scarlet. Hasil tersebut tidak memenuhi syarat mutu tahu yang dibakukan oleh Balai Penelitian Kimia Semarang (1971). Syarat mutu zat pewarna tahu sesuai syarat mutu adalah tidak terdapat zat pewarna pada tahu tersebut.
Perubahan warna yang timbul dari uji yang dilakukan tidak terlalu signifikan, jadi pengamatan penentuan warna yang dilakukan secara organoleptik menggunakan indera penglihatan hasilnya bias.
Faktor-faktor yang mempengaruhi hasil uji diantaranya: perubahan yang terjadi pada bulu domba tidak signifikan sehingga sulit diamati, lingkungan akomodasi yang kurang baik sehingga menggannggu pengamatan. Reagen yang sudah kadaluarsa.
Dalam pengolahan tahu seringkali digunakan warna kuning-orange untuk mewarnai produk agar lebih menarik. Biasanya digunakan kunyit sebagai pewarna alami, akan tetapi dapat juga digunakan pewarna sintesis yang diperbolehkan dan dengan jumlah takaran yang telah ditentukan
Batas Maksimun Penggunaan pewarna sintetik yang dizinkan seperti Pancrew 4 R : 300mg/Kg bahan makanan, tatrazin, brilliant blue dan sunset yellow : 100mg/Kg bahan makanan (Depkes, 1998)..
Tujuan daripada pemberian zat pewarna pada makanaan, terutama pada tahu adalah untuk menambah daya tarik pembeli sehingga produk dapat laku dipasaran.
VIII. KESIMPULAN
Dari hasil analisa dapat disimpulkan bahwa pada keempat jenis produk tahu yang telah dianalisa terdapat zat pewarna yaitu pewarna rose bengal, sudan, coklat bosmark, brilliant yellow-S, dan palatine scarlet. Dengan demikian produk tersebut tidak memenuhi syarat tahu yang dibakukan oleh Balai Penelitian Kimia Semarang (1971). Syarat mutu zat pewarna tahu sesuai syarat mutu adalah tidak terdapat zat pewarna pada tahu tersebut.
Saya akan sangat mengesyorkan perkhidmatan pembiayaan meridian Le_ kepada sesiapa yang memerlukan bantuan kewangan dan mereka akan membuat anda berada di atas direktori tinggi untuk sebarang keperluan selanjutnya. Sekali lagi saya memuji diri anda dan kakitangan anda untuk perkhidmatan dan perkhidmatan pelanggan yang luar biasa, kerana ini merupakan aset yang hebat untuk syarikat anda dan pengalaman yang menyenangkan kepada pelanggan seperti saya sendiri. Mengharapkan anda semua yang terbaik untuk masa depan. Perkhidmatan pembiayaan meridian adalah cara terbaik untuk mendapatkan pinjaman mudah, di sini ada email..lfdsloans@lemeridianfds.com Atau bercakap dengan Encik Benjamin Pada WhatsApp Via_ 1-989-394-3740 Terima Kasih untuk membantu saya dengan pinjaman sekali lagi dengan sepenuh hati saya bersyukur selama-lamanya.
BalasHapus